Kejutan yang Tak terduga (Contoh Cerpen Terbaru 2015)

Setelah kecelakaan itu, semuanya memang terasa pudar baginya. Kiran, seorang gadis manis, ceria, seorang gadis yang tak pernah terlihat murung didepan orang lain. Tapi, saat ini semua itu hanya menjadi sebuah kenanggan. Ia tak lagi menampakkan rona keceriaan diwajahnya yang manis itu. Senyuman itu masih tersimpan di sudut bibirnya, sampai sekarang tak seorangpun dapat mengurai senyuman manis itu.
Pagi itu Ia masih seperti biasanya. Bahkan rambutnya yang sebahu itu tak lagi terjamah oleh sela-sela sisir. Kecelakaan seminnggu yang lalu memang membuatnya kehilangan jati diri. Semuanya berawal saat dia menunggu bus di halte. Di seberang jalan tampak seorang wanita hamil berbaju daster berwarna kelabu dengan barang bawaan yang nyaris menutupi perutnya yang tengah hamil tua. Fikirannya kemudian beradu, haruskah ia menolong wanita itu dan ketinggalan bus yang sedari tadi ia tunggu? Ataukah harus membiarkan wanita yang sedang kesusahan demi apa yang ia tunggu. Akhirnya Kiran memutuskan untuk pergi keseberang jalan dan membantu wanita hamil itu. Ia membawakan barang-barangnya  lalu membiarkan ibu itu beristirat sebentar.
Seketika bus itu datang, dan kiran langsung menyambar tasnya dan secepat kilat berlari ke seberang jalan. Tapi mengapa seketika ia merasakan kegelapan yang teramat dalam? Tiba-tiba ia banyak mendengar deru langkah kaki dan suara jeritan, tapi itu hanya sebentar kemudian ia tak merasakan apa-apa lagi. Ya, sebuah angkutan umum berwarna biru yang menghempaskan tubuhnya yang kini terkulai lemah tak berdaya di pinggir jalan.
Mata indah itu perlahan terbuka, ia melihat sepasang suami-istri, seorang perempuan, dan satu lagi laki-laki. Suami-istri itu yang lebih tepatnya adalah orang tua Kiran, Selly sahabat Kiran, dan Edo. Edo adalah teman dekat Kiran, mereka baru saja jadian 7 bulan yang lalu, tapi sudah sangat dekat dan tau kebiasaan dan kesukaan masing-masing. Kiran sudah 2 hari tak sadarkan diri dirumah sakit, ia juga tak ingat siapapun serta kini ia tidak lagi bisa berjalan seperi dulu.
Setelah kepulangannya dari rumah sakitpun ia masih belum menunjukan peningkatan apapun, setiap hari Edo maupun Selly selalu datang kerumah dan berusaha menghibur Kiran, mengajaknya berbicara, mengajak berjalan-jalan  ke taman untuk sekedar mengembalikan ingatan-ingatan yang pernah mereka lalui. Tapi hasilnya nol, kiran tak merespon apapun.
Begitulah Selly menceritakan kejadian yang menyedihkan itu dari awal sampai akhir kepada Dani, kakak Kiran yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negri, di kota Bandung. Dani baru saja pulang dari Bandung setelah mendengar kejadian tragis yang menimpa adik tercintanya itu.  Dani tanpa panjang lebar langsung menuju kamar Kiran setelah mendengar penjelasan Selly. Betapa hancur hatinya melihat Kiran yang hanya yang terkulai lemah di tempat tidur seperti orang yang tak lagi hidup jiwanya, mukanya yang manis tampak pucat, senyumnya yang dulu selalu menarik, sekarang sudah tidak ada. Dipeluknya Kiran dan tetesan bening itu tak terasa membanjiri kedua belah pipinya. Ia tak kuasa menahan dirinya, tak kuasa membendung rasa sedihnya atas apa yang menimpa adik tersayangnya. Begitu pula dengan mama dan papa nya yang sedari tadi melihat dari pintu.
Seperti biasa Edo datang sepulang sekolah. Ia membawakan Kiran makanan kesukaannya yaitu ice creem coklat.
“hai ki....gimana kabar kamu hari ini? Sekolah sepi sekali tanpa kehadiran mu, oh ya, aku bawakan makanan kesukaan kamu dan kamu ingat kan dulu waktu aku nembak kamu aku bawa ice creem ini”
Dani yang sedari tadi melihat dari sudut pintu bereaksi ketika Kiran melempar ice creem yang di bawa Edo ke lantai. Edo dan Dani segera menenangkan Kiran dan membawanya ke kamarnya.
Dani pergi ke dapur mengambilkan minum untuk Kiran, baru beberapa langkah dari kamar Kiran. Ia seperti mendengar tawa kecil Kiran tapi ia mengabaikannya, mengingat kondisi Kiran sekarang, Kiran tak mungkin tertawa seperti itu.
Satu minggu lagi Dani di Wisuda untuk gelar S1 Teknik Elektro yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-24 tahun. Tapi tak ada rona kebahagiaan yang terpancar dari wajahnyan, jika mengingat keadaan adiknya yang kini tak berdaya dikursi roda. Hari terus berganti namun kedaan belum berubah sedikitpun. Hari ini seharusnya hari yang paling membahagiakan karena ia berhasil menyelesaikan study nya yang telah ia jalani selama 4 tahun dan juga hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun nya. Pagi ini Ia justru tidak semangat untuk menghadiri acara wisudanya. Tapi orang tuanya membujuknya untuk hadir keacara yang penting buat hidupnya itu. Dani pun mengiyakan bujukan orang tuanya itu, ia berangkat sendiri ke kampus untuk wisuda tanpa ditemani mama dan papa nya yang masih menjaga adik kesayangannya, Kiran. Dani tak pernah membayangkan akan begitu menyedihkan pesta kelulusannya. Ia hanya diam, sesekali tersenyum kecil pada orang yang menyapa dan memberi selamat kepadanya. Senyum pahit itu jelas tergambar di sudut bibirnya itu.
Setelah acara wisudanya selesai Dani secepatnya kembali kerumah tanpa merayakan kelulusannya bersama teman-teman seangkatannya. Dani tidak bisa bersenang-senang ketika hatinya menangis mengingat keadaan adiknya itu. Pukul 16.17 WIB Dani sampai di rumahnya, tapi matanya sayu menampakkan kesedihan yang mendalam. Sesempainya dirumah Dani langsung mencari Kiran, tapi tak seorangpun ditemuinya dirumah, termasuk mama dan papa nya. Dani merasa khawatir atas kondisi adiknya,
“jangan-jangan kiran masuk rumah sakit lagi.” Tanya dani dalam hatinya.
Dani kalang-kabut atas kondisi ini, ia pun langsung lari keluar rumah dengan terburu-buru, betapa kagetnya dani ketika melihat kiran dan kedua orang tuanya di depan pintu, dan lebih kagetnya lagi ketika dani menyadari bahwa kiran tidak lagi duduk dikursi roda lagi. Wajah nya tidak lagi pucat, senyumnya sudah hadir kembali di bibir mungilnya. Apalagi ditangan kiran ada kue ulang tahun. Dani kaget, senang bercambup kebingungan.
“sebenarnya apa yang terjadi.” Tanya dani penuh kebingungan.
Mama, papa dan kiran menjelaskan kalau semua ini hanya skenario belaka yang dibuat Kiran untuk memberi kejutan kepada kakaknya tersayang, kejutan yang akan selalu di ingat kakaknya seumur hidupnya.

Dani pun tak habis pikir dengan apa yang dikakukan kiran, tapi yasudah lah, dani tanpa pikir panjang lagi berlari dan memeluk erat adiknya tersayang.
Oleh : Opi Pandutama 
Previous
Next Post »

• Komentarlah sesuai apa yang di posting
• Dilarang berkomentar yang berbau SARA, kekerasan dan pornografi
• Dilarang meninggalkan link aktif
• Dilarang membaca tanpa meninggalkan komentar, :D Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Thanks for your comment